Menggambarkan Indonesia

Pemutaran film dokumenter dan diskusi                                                                  Ruang Diskusi Perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional                                        Kompleks Kementerian Pendidikan Nasional
Gedung A Lantai 1                                                                                                                              Jl. Jenderal Sudirman, Senayan                                                                                                   Sabtu, 30 Juli 2011, pukul 11.00 – selesai

Dari Sabang sampai Merauke                                                                                              Berjajar pulau-pulau                                                                                                                     Sambung menyambung menjadi satu                                                                                     Itulah Indonesia

Pernah dengar lagu itu? Bagi anak-anak Indonesia, lagu ini cukup familiar karena ini adalah salah satu lagu nasional yang sering kita nyanyikan saat SD. Tapi setelah kita dewasa, pernahkah kita membayangkan dan merasakan seluas apa Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke? Bagaimana penggambaran kita tentang Indonesia sebagai gugusan pulau yang berdaulat menjadi satu bangsa dan satu tanah air?

Dua jurnalis, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, berupaya mengenal lebih dalam tanah air mereka sendiri. Mereka melakukan perjalanan mengelilingi 80 pulau di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke, pulau Rote hingga Miangas, menempuh perjalanan darat dengan motor trail, perjalanan laut dengan kapal apa saja yang tersedia dan menghabiskan malam dengan camping atau menginap di rumah penduduk. Bagi mereka, cara terbaik mencintai Indonesia salah satunya adalah melihat langsung alamnya dan bertemu langsung rakyatnya.

Farid Gaban di Teluk Maumere, Flores

Ekspedisi yang mereka namakan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa ini dilakukan dari Juni 2009 – Juni 2010.

Hasil ekspedisi mereka selama setahun kemudian bisa dinikmati dalam pemutaran film dokumenter di Perpustakaan Kemendiknas, 30 Juli lalu. Acara yang diselenggarakan oleh Jejak Langkah Study Club bekerja sama dengan Perpustakaan Kemendiknas dan Positiv3 Institute dihadiri oleh salah seorang pelaku ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Farid Gaban dan Dhandy Dwi Laksono dari WatchDoc sebagai pembuat film dokumenter.

Selain dua pembicara tadi, hadir juga sosok Eddie M. Nalapraya, purnawirawan TNI AD yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984 – 1987, pengawal Presiden Soeharto saat menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat/Pengkopkamtib, dan tokoh Betawi penggerak Pencak Silat. Beliau menuangkan jejak langkah perjalanan hidupnya dalam buku otobiografi berjudul ‘Jenderal Tanpa Angkatan: Memoar Eddie M. Nalapraya’.

Bersamanya, hadir Husni Umar, sosiolog UIN yang saat mahasiswa justru pernah ditangkap oleh Eddie M. Nalapraya.

Dengan kombinasi Farid Gaban dan Dhandy Dwi Laksono yang menggambarkan Indonesia dari sisi rakyat yang terpinggirkan – melalui film dokumenter perjalanan Zamrud Khatulistiwa – dan Eddie M. Nalapraya yang menggambarkan jejak hidupnya yang sempat dekat dengan tokoh kekuasaan Orba, diskusi ini menjadi sangat menarik dan lengkap.

Film dokumenter Zamrud Khatulistiwa sendiri menyuguhkan lanskap pemandangan alam pulau-pulau Indonesia yang – tentunya kita sudah cukup tahu – sangat menakjubkan. Mulai dari warna-warni taman laut di Pulau Weh hingga Raja Ampat, hutan bakau, perjalanan darat yang ditemani kehijauan dan langit biru yang memberi panorama menakjubkan.

“Kami bertemu lumba-lumba, karang yang cantik, hingga ubur-ubur yang tidak menyengat. Saya memotret semua dan Yunus menulis,” tutur Farid.

Tidak hanya memotret pemandangan alam Indonesia, film dokumenter ini juga menggambarkan Indonesia dalam berbagai sudut pandang kehidupan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau yang menjadi bagian wilayah Indonesia yang mirisnya justru kurang tersentuh deru pembangunan. Luasnya laut dan jumlah pulau serta kekayaan khasanah hayati di dalamnya yang belum termanfaatkan dengan baik dan wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil cenderung masih menjadi kantong kemiskinan dan terisolasi dari pembangunan.

Menurut Farid, kondisi masyarakat pulau di Indonesia sangat memprihatinkan. Di pulau Karimata, Kalimantan Barat yang dihuni ratusan penduduk, ada sekolah tapi tak ada pengajar, kilinik kesehatan tapi tak ada petugas kesehatan. “Ini kan miris, itu pemerintah sudah mencabut HAM mereka,” katanya.

Selain itu, kondisi transportasi laut yang menjadi alat transportasi terjangkau yang bersifat massal pun cukup memprihatinkan keadaannya.

“Kadang kapal terlalu penuh sehingga kami harus tidur berhari-hari di bawah tangga, atau di sekoci, atau berjejalan di geladak yang pengap dengan bau keringat, muntah dan toilet yang mampet. Salah satu perjalanan paling menyiksa adalah 10 hari pelayaran dari Bandaneira ke Merauke,” cerita mereka dalam website Zamrud Khatulistiwa.

Dalam diskusi pemutaran film tersebut, Farid Gaban ingin mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan 2/3 wilayahnya adalah laut. Karena itulah seharusnya pemerintah menjadikan pembangunan yang ada di Indonesia lebih mengedepankan kelautan dan tidak berkonsentrasi hanya pada darat.

“Pemerintah dan masyarakat Indonesia perlu mengubah cara berpikir: mulai secara serius menengok khasanah kekayaan hayati dan budaya laut serta kepulauan sebagai jawaban atas krisis ekonomi dan lingkungan yang sekarang melanda negeri ini, dan tidak hanya memanjakan transportasi darat dengan membangun jalan tol, jembatan antar pulau, dan semacamnya,” ujar Farid.

Kelemahan utama yang ada saat ini antara lain jalur perhubungan antar pulau yang tidak cukup baik; kesejahteraan penduduk yang tidak merata di masing-masing pulau dan derap pembangunan yang cenderung berkaca pada kota-kota besar seperti Jakarta menjadi beberapa isu keprihatinan mantan jurnalis senior Tempo dan Republika yang pernah meliput Perang Bosnia tahun 1992.

Sementara Dhandy Laksono melukiskan apa yang terjadi dengan Indonesia saat ini bukan suatu keadaan yang stagnan di satu titik tapi akan terus berproses. Hanya saja, hendak bagaimana negara ini akan diproses dan dibentuk sementara masih banyaknya daerah serta penduduk yang masih tertinggal tingkat kehidupannya dan laju pembangunan daerahnya merupakan pertanyaan krusial yang seharusnya segera direspons oleh pemerintah dan pihak-pihak yang peduli dengan masa depan bangsa.

Kekayaan alam hayati Indonesia yang melimpah baik di daratan maupun di lautan merupakan modal bagi kemajuan masyarakatnya, tapi ironisnya justru di wilayah-wilayah yang kaya sumber modal tersebut, kekurangsejahteraan penduduk terjadi dan ketidaklayakan sarana dan infrastruktur umum masih jelas terlihat.

Hal ini menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi pemerintah di tingkat pusat dan daerah.

Berbeda dengan dua pembicara di atas yang melihat pembenahan atas permasalahan Indonesia di tingkat pembuat kebijakan, maka Husni Umar, sosiolog UIN, melihatnya di tingkat mikro. Sama halnya dengan Dhandy, Husni Umar mengingatkan bahwa Indonesia adalah hasil dari proses di mana salah satunya melingkupi proses kehidupan berpolitik dan berkenegaraan para pembuat kebijakan yang ada.

Oleh karena itu, alih-alih hanya mengeluhkan permasalahan yang terjadi, alangkah baiknya jika masing-masing individu juga terus menggali kemampuan-kemampuan yang bisa berguna bagi publik selain pastinya berguna bagi diri sendiri. Ia mencontohkan kehidupannya sendiri yang berasal dari Kendari dan di masa kecilnya lekat berinteraksi dengan suku Bajo dan kesederhanaan hidup mereka. Melihat kesederhanaan hidup suku yang terkenal sebagai pelaut tangguh inilah yang melecut impian Husni untuk merasakan kemajuan dalam pendidikan dan berguna bagi masyarakat.

Kedekatannya dengan kesederhanaan hidup suku Bajo pula yang mengasah kepeduliannya terhadap tanah air dan ia harap, individu-individu lain juga melakukannya dan akan membawa kepada menguatnya persatuan anak bangsa.

Menurutnya, Indonesia yang semakin baik bukan lagi impian atau sekedar ide tapi akan terwujud dengan upaya individu-individu yang tinggal di dalamnya. Karena itulah, tuturnya, kita harus menyebarkan pikiran-pikiran positif ke masyarakat.

Salah satu hal yang sebaiknya juga ada adalah upaya mempengaruhi sistem supaya mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang positif dan salah satu jalan yang sebaiknya dilakukan adalah masuk ke dalam sistem kenegaraan dengan niat-niat positif tersebut.

Sementara Eddie M. Nalapraya memilih pengabdian ke masyarakat dan berwiraswasta setelah pensiun dalam bidang militer dan jabatan sipil sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Dengan berbudidaya jamur, beliau melakukan pemberdayaan ekonomi terhadap masyarakat di lingkungan sekitar usaha sekaligus membuatnya bahagia karena merasa berguna.

Selain itu, beliau juga menceritakan jejak karir kemiliterannya yang cukup inspiratif karena pria tamatan SMA ini dapat mencapai pangkat Letnan Jenderal hingga akhir masa jabatan, bahkan dapat merasakan pendidikan kemiliteran di Amerika Serikat.

Hal yang unik adalah Husni Umar, pembicara yang datang bersamanya ternyata merupakan salah satu mahasiswa yang pernah beliau tangkap saat Husni menjadi aktivis kampus. Salah satu penulis buku memoarnya, Iskadir, juga merupakan mantan aktivis dan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Padjadjaran yang dulunya pernah ditahan di Bandung oleh Kodam Siliwangi, di mana saat itu Eddie masih aktif bertugas.

Meskipun begitu, Eddie yang terkenal sebagai salah satu tokoh Betawi yang ikut melestarikan kebudayaan Pencak Silat, tetap berusaha membangun hubungan yang baik terhadap mahasiswa yang pernah ditahannya di tempat yang disebut Kampus Kuning. Disebut Kampus Kuning karena seluruh tembok tahanan dicat dengan warna kuning, di mana oleh para mahasiswa saat itu Eddie diangkat sebagai Rektor Kampus Kuning.

Ada banyak cerita lucu dan unik yang beliau bagi kepada peserta forum diskusi Jejak Langkah Study Club, bahkan obrolannya dengan, mantan penguasa Orba, Soeharto dan istrinya, Tien Soeharto saat salah seorang putri Soeharto, Mamiek mengusulkan beliau untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Bu Tien langsung menyanggah keberatan karena menganggap beliau tukang kawin.

Diskusi yang penuh warna latar belakang profesi baik dari pembicara maupun peserta diskusi ini ditutup dengan kesimpulan oleh beberapa pembicara yang intinya adalah apapun jabatan dan latar belakang profesi kita, hal terpenting adalah adanya kepedulian terhadap yang terjadi di sekitar kita dan hal apa yang bisa dilakukan dan mampu kita kerjakan.

Selalu ada jalan untuk perubahan yang lebih baik walau awalnya tak mungkin karena minimnya sumber daya pendukung.

Indonesia sebagai suatu wilayah yang luas dan kaya adalah ladang untuk eksplorasi bagi kepedulian, empati, pengabdian dan uji coba untuk melakukan sesuatu yang berfaedah.

Bangsa ini, termasuk kita yang tinggal di dalamnya, tidak akan berubah menjadi baik bila penduduknya tidak berupaya membuatnya menjadi baik. (LV)

Beberapa anggota Jejak Langkah Study Club berfoto bersama pembicara di akhir acara.

Sumber: Notulensi diskusi, berbagai artikel yang dikutip dari www.zamrud-khatulistiwa.or.id, dan buku ‘Jenderal Tanpa Angkatan: Memoar Eddie M. Nalapraya’ karya Ramadhan KH, Iskadir Chotob, dan Feris Yuarsa. Foto Farid Gaban dan Ahmad Yunus diambil dari www.zamrud-khatulistiwa.or.id

Comments
2 Responses to “Menggambarkan Indonesia”
  1. rika says:

    keren LV

    • Thanks Rika… Tapi bukan LV dooong… Ini kan bukan blog personal.🙂 Nantinya tulisan kamu dan tulisan teman-teman lainnya harus mewarnai blog ini juga. Sekalian kita bisa belajar menulis yang menarik dan argumentatif mengenai pemikiran kita. Pasti seru kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: