Negara sudah merdeka, bagaimana dengan bangsanya?

(Sebuah renungan dalam rangka memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-66)

 

Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan tindakan hukum yang memunculkan keberadaan negara Indonesia yang konsekuensinya adalah perubahan hukum dan status sosial politik. Lenyaplah tatanan hukum kolonial Hindia Belanda berganti dengan tatanan hukum Indonesia.

Soekarno mengutarakan, “Kemerdekaan adalah suatu jembatan emas yang di seberangnya akan kita sempurnakan kita punya masyarakat.”

Muhammad Yamin menjelaskan bahwa, “Proklamasi Kemerdekaan adalah suatu alat hukum untuk menyatakan kepada rakyat dan seluruh dunia bahwa bangsa Indonesia mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri untuk menggenggam seluruh hak kemerdekaan yang meliputi bangsa, tanah air, pemerintahan dan kebahagiaan masyarakat.”

Para pendiri bangsa memikirkan bahwa kemerdekaan bukan hanya bebas dari belenggu penjajahan tapi kemerdekaan juga adalah sarana pencapaian cita-cita atau tujuan bersama dengan identitas nasional dari persatuan rakyatnya. Kemerdekaan adalah proses yang tidak pernah usai. Kemerdekaan harus terus dimaknai, diisi dan diperjuangkan sesuai perkembangan dan tuntutan zamannya.

Pengaplikasian kemerdekaan tersebut selanjutnya tertuang dalam kesepakatan rakyat dalam membuat sistem hidup berbangsa dan bernegara dan hasilnya yaitu produk hukum seperti UUD 1945 dan peraturan negara lainnya yang mengatur lebih detil upaya pencapaian kerja bersama seluruh rakyat dalam meraih tujuan kemerdekaan bersama seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang saya kutip berikut ini:

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Jika membaca kutipan di atas, maka sudah cukup jelaslah tujuan negara ini merdeka. Hal pertama terkait dengan ketahanan nasional di mana kita seharusnya dapat melindungi seluruh wilayah darat dan perairan Indonesia dari intervensi asing. Akan tetapi, lepasnya Timor Timur yang kini menjadi Timor Leste, lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan dan makin banyaknya pulau-pulau kecil di Indonesia yang dimiliki pihak asing menjadi sebuah ironi jika dikaitkan dengan tujuan negara ini dibentuk.

Tujuan kedua dan ketiga berkaitan dengan ekonomi dan pendidikan. Sepertinya para pendiri negara Indonesia sangat memahami tonggak-tonggak penting yang membuat bangsa ini dianggap maju, yaitu bidang ekonomi dan pendidikan.

Lalu bagaimana realisasi di bidang ekonomi dan pendidikan rakyat Indonesia saat ini? Jika kita merepresentasikan Indonesia dengan Jakarta, Surabaya, Batam dan kota-kota besar lainnya, ya! ekonomi Indonesia memang maju dan terus bergerak dinamis. Tetapi bagaimana pergerakan ekonomi di daerah Mentawai, Entikong atau Maumere misalnya? Akankah jauhnya wilayah-wilayah tersebut dari poros pergerakan ekonomi menjadi alasan belum terwujudnya kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945?

Dari ketiga tujuan negara Indonesia yang saya sebutkan sebelumnya dan jika kita menelaah kondisi saat ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa kemerdekaan yang kita rasakan saat ini belumlah kaffah atau menyeluruh sampai ke sumsum bidang-bidang yang melindungi, menyejahterakan dan mencerdaskan. Kemiskinan dan kebodohan masih membelenggu masyarakat dan bahkan saat ini banyak bermunculan penjajah dari bangsa sendiri yang serakah dan penghisap gila-gilaan dengan pola pengkorupsian sumber daya dan investasi modal negara.

Yang terparah adalah ketika Indonesia hanya dianggap nama tapi belum terpatri dalam sanubari bangsanya dan menjadi sebuah identitas yang harus dibanggakan karena sebagian masyarakat masih dihimpit oleh hawa nafsu kolonialisme baik yang dilakukan korporasi maupun individu-individu dengan menghisap sumber daya alam Indonesia untuk memperkaya diri & kelompok sendiri.

Sebagai bangsa yang merdeka, kita juga kadang masih terbebani rasa tidak percaya diri dan terkena arus semangat mementingkan diri sendiri atau bahkan tersandera pemikiran negatif memandang bangsa sendiri sehingga membuka peluang masuknya imperialisme  asing ke negara kita dalam bungkusan ekonomi.

Sementara di tingkat atas adalah kekhawatiran akan semakin carut marutnya sistem hidup berbangsa dan bernegara serta semakin tidak cakapnya lembaga legislatif dan eksekutif dalam mengelola negara karena digerogoti perilaku dan mental kenegarawanan yang kurang elok – kalau tidak mau dibilang tidak bermoral. Semua permasalahan yang disebutkan tadi hanya segelintir dari kompleksnya permasalahan yang melanda Indonesia saat ini sehingga jika kita renungkan makin berjalan tahun sejak tahun 1945 hingga di usianya yang ke-66 di tahun 2011 ini, makin terasa semunya kemerdekaan yang selalu kita rayakan setiap tahun ini.

Renungan ini tidak mengajak kita untuk memandang negatif masa depan Indonesia. Karena energi positif justru saat ini sangat dibutuhkan bangsa ini untuk membenahi segala permasalahan yang ada.

Jika kita tengok ke tahun 1945 dan masa-masa perjuangan meraih kemerdekaan sebelumnya, kemerdekaan negara ini bisa kita raih melalui akumulasi semangat positif kaum muda yang bersatu dengan pemikiran matang tokoh-tokoh pergerakan nasional senior. Semangat persatuan nasional yang menyingkirkan identitas Jong Jawa, Jong Sumatera atau Jong Manado. Semua ingin Indonesia merdeka. Rentetan tekanan kolonialisme dengan ancaman pengasingan dan himpitan kebutuhan hidup yang memiskinkan yang mewarnai kehidupan tokoh-tokoh pergerakan nasional alih-alih menyurutkan malah semakin memupuk dengan hebatnya hasrat merdeka dan memunculkan Indonesia berdaulat.

Sama halnya dengan energi positif dalam memandang dan memaknai kemerdekaan saat ini yang bisa kita lihat dari terbukanya peluang bagi anak bangsa untuk berkarya dan membangun diri serta mengekspresikan diri dengan memfasilitasi hasrat berkarya teman-teman lainnya. Kemerdekaan juga setidaknya dapat terwujud dalam kemerdekaan menyatakan pendapat.  Walau, mungkin ini belumlah cukup untuk mengharapkan apa yang seharusnya terwujud dari kemerdekaan. Akan tetapi mungkin saja yang sedikit ini mungkin dapat menjadi jalan untuk mereformasi pemikiran, sikap dan sistem dalam mewujudkan pemikiran para pendiri Indonesia tentang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Selain itu, ketulusan dalam bekerja, mengabdi, melakukan sesuatu yang berarti untuk negeri, bukan sekedar mencari uang sana-sini dan berpolitik sana-sini untuk memakmurkan keluarga sendiri,  kita harapkan masih melekat pada bapak-ibu legislatif dan eksekutif yang kita hormati. Masih ada segelintir pemimpin daerah atau pejabat yang patut kita acungi jempol dengan keputusan-keputusan mereka yang melawan arus semata-mata untuk melindungi rakyatnya dari imperialisme ekonomi atau menegakkan kebenaran dari tokoh-tokoh yang berupaya memperdaya sistem.

Klisenya adalah, pada akhirnya semua berpulang kepada diri kita masing-masing, baik pengatur kebijakan, pengelola negara maupun kita sebagai rakyat, apakah kepositifan dan ketulusan akan selalu ada dalam diri kita serta apakah kebaikan dan kebenaran tetap akan menjadi kiblat dalam mengarungi perjalanan hidup berbangsa dan bernegara di era kemerdekaan tahun-tahun selanjutnya?

Mari  kita renungkan kembali, dan kita jawab dengan tindakan. Merdeka!

(Ditulis oleh Dani Kristianto, diedit ulang oleh Elvi Astuti)

__________________________________________

 Daftar pustaka :

Dr. Jazim Hamidi, S.H., M.H. & Mustafa Lutfi S.Pd., S.H., M.H., Civic Education, Antara Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya. Jakarta, 2010.

Perbincangan di facebook groups Jejaklangkah StudyClub tentang Kemerdekaan. Agustus 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: