Apa Kabar Pramuka?

(Tulisan ini dalam rangka memperingati HUT Pramuka 14 Agustus 2011)

foto merupakan cuplikan dari film "5 Elang" diambil dari http://www.poskota.co.id/hiburan

Saat mendengar kata Pramuka, apa yang terpikirkan oleh Anda? Berkemah? Anak-anak berseragam coklat? Belajar tali-menali? Atau mungkin juga memori masa kanak-kanak saat di bangku SD.

Meinawati Prastutiningsih mengenang momen berpramuka saat masih SD dan ia cukup merasakan manfaat positifnya.

“Aku pribadi sih rasanya jadi lebih mandiri dan belajar memimpin teman-teman. Fun dan belajar sesuatu yang beda,” ujarnya.

Sementara Arief Prasetyo menuturkan bahwa kebiasaannya dalam bergaul saat ini dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah sebagian besar ia serap dari kegiatannya di Pramuka. Menurutnya, Pramuka menjadi alternatif organisasi persaudaraan yang terlepas dari unsur agama, politik atau kesukuan.

Nada yang positif juga dituturkan oleh Evie Goenawan yang menganggap ada banyak ilmu yang ia peroleh dalam kegiatan Pramuka.

Fun dan asik banget,” katanya.

Ia bahkan berharap Gerakan Pramuka di zaman sekarang juga semenyenangkan yang ia rasakan dulu.

“Apalagi banyak anak sekarang yang cenderung individualis. Mungkin dengan ikut Pramuka bisa menumbuhkan motivasi kebersamaan,” harapnya.

Pramuka sebagai organisasi kepanduan di Indonesia memang merupakan bagian pendidikan nasional yang bertujuan membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual, dan fisik mereka.

Hingga tahun 2011 ini, gerakan pramuka Indonesia memiliki lebih dari 17 juta anggota dan ini menjadikannya sebagai gerakan kepanduan terbesar di dunia.

Walau memiliki jumlah anggota terbanyak, bagaimana dengan gaung kegiatannya? Harus kita akui gaung kegiatan Pramuka saat ini tak sebesar dekade-dekade sebelumnya karena semakin banyaknya kegiatan berorganisasi di sekolah, dan Pramuka saat ini dianggap kegiatan yang tidak up to date dengan perkembangan anak muda saat ini.

Sejarah Pramuka di Indonesia

Jika kita menilik sejarah kepanduan di Indonesia, Pramuka atau organisasi kepanduan Indonesia telah memiliki sejarah panjang melewati masa penjajahan Belanda, Jepang, bahkan turut memberikan kontribusi perjuangan dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda.

Organisasi kepanduan di Indonesia juga terbentuk karena dorongan besar kaum muda Indonesia untuk bersatu dan berorganisasi yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang “Nederlandsche Padvinders Organisatie” (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging” (NIPV) pada tahun 1916.

Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu mulai tampak dengan terbentuknya PAPI yaitu “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” pada tanggal 23 Mei 1928.

PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

Antara tahun 1928-1935 bermuncullah juga gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan maupun bernafas agama. Kepanduan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernafas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan “All Indonesian Jamboree” yang kemudian disepakati namanya menjadi “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” yang disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Pandu Rakyat Indonesia menjadi satu-satunya organisasi kepanduan saat itu yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Karena agresi Belanda dan munculnya larangan Pandu Rakyat Indonesia berdiri di daerah-daerah yang diduduki Belanda, maka berdirilah perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia. Setelah berakhirnya periode perjuangan tersebut, Pandu Rakyat Indonesia kemudian mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.

Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupkan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah kesempatan untuk munculnya organisasi-organisasi kepanduan yang lain dan otomatis mencabut pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia pada saat itu.

Akibatnya jumlah organisasi kepanduan di Indonesia pada waktu itu menjadi sangat banyak dan bahkan jumlahnya tidak sepadan dengan jumlah seluruh anggota organisasi.

Hal ini memunculkan lahirnya Keputusan Presiden Soekarno dalam pidatonya di hadapan para tokoh dan pimpinan organisasi kepanduan pada 9 Maret 1961 untuk meleburkan seluruh organisasi kepanduan yang ada saat itu menjadi satu organisasi yang disebut Pramuka.

Gerakan Pramuka pun secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 di Jakarta  dengan sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar dan diikuti dengan pawai pembangunan di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.

Peristiwa perkenalan pada 14 Agustus 1961 tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Pramuka yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.

Pramuka saat ini

Lain dulu lain sekarang. Permasalahan dan semangat anak muda zaman dulu pastinya berbeda dengan permasalahan dan semangat anak muda saat ini.

Jika zaman penjajahan Belanda dan masa perjuangan kemerdekaan, anak muda memiliki musuh bersama, yaitu penjajah. Semangat yang mereka usung pun sama yaitu bersatu menumpas musuh tersebut, dan hal tersebut difasilitasi dalam organisasi-organisasi kepanduan yang mereka bentuk. Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, buku dan organisasi menjadi dua hal yang biasa untuk menunjukkan eksistensi mereka pada lingkungan.

Sementara generasi muda saat ini yang disebut juga generasi Z atau net generation tentunya memiliki karakteristik berbeda dengan generasi sebelumnya.

Generasi yang lahir tahun 1991-an ini dikenal lekat dengan gadget. Generasi di mana segala informasi dapat mereka peroleh dengan cepat melalui internet. Eksistensi diri dapat dilakukan melalui komunitas-komunitas di social network. Generasi instan yang menyukai hal-hal serba cepat dan menjauhi proses yang membutuhkan waktu lama.

Dengan karakteristik generasi muda seperti ini, akankah Pramuka masih menjadi aktivitas yang menarik bagi anak muda saat ini? Entah menarik atau tidak bagi generasi muda saat ini, tapi yang jelas masih banyak yang mengharapkan Pramuka tetap ada dan dilanjutkan.

“Perlu dong  untuk media sosialisasi dan pembentukan karakter ‘cinta alam dan sesama’,” ujar Pitri Indrianingtyas sambil menyebutkan salah satu butir dalam Dasa Dharma Pramuka.

Futty Syaleikha Adjani juga menambahkan Pramuka sebaiknya tetap dilanjutkan karena dapat melatih anak menjadi mandiri, berani dan tidak individualis sekaligus menyenangkan.

“Seru juga kan, berpetualang,” katanya mendeskripsikan kegiatan luar ruang Pramuka itu.

Firman Haris bahkan berharap lebih dengan kegiatan Pramuka ini.

“Untuk membangun jiwa-jiwa yang kosong karena sekarang banyak “badan-badan  yang berjalan tanpa jiwa”. Kata teman dan kakak Pramuka saya, ‘bangunlah jiwanya bangunlah badannya,” paparnya sambil mengutip lirik dalam lagu nasional bangsa.

Apapun itu, Pramuka sebagai organisasi kepanduan yang terbentuk bertahun-tahun hendaknya juga perlu mengkritisi diri sendiri. Di masa di mana kemasan lebih diperhatikan daripada isinya, maka Pramuka yang memiliki cukup banyak ‘isi’ yang positif seharusnya juga dapat mengemas kegiatannya dengan menarik tanpa meninggalkan tujuan dari kepramukaan itu sendiri. Dirgahayu Pramuka!

(Ditulis oleh Elvi Astuti)

____________________________

Sumber:

Rangkuman percakapan dan pendapat teman-teman JejakLangkah Study Club tentang “Pramuka saat ini” di Facebook.

Artikel tentang Gerakan Pramuka Indonesia dan Sejarah Pramuka Indonesia di wikipedia.

Artikel mengenai Z Generation di wikipedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: