Lingkungan dan Perlakuan Kita Terhadapnya

FreeGreatPicture.com-621-man-and-nature (2)

(sebuah catatan atas kegiatan diskusi Dialektika mengenai Lingkungan)

Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Desember 2012
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d selesai
Tempat : Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gedung A Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman
Pembicara : Perwakilan Ciliwung Institute
(oleh Hasanuddin, Syahril Sidik, dan kawan-kawan)
Perwakilan Kampung Hijau Urban
(oleh Harini Bambang Wahono)
Peserta : Umum

Tema : Bagaimanakah Lingkungan Hidup di Sekitar akan Kita Bentuk?

IMG-20121215-00617 (2)

Beberapa minggu belakangan ini hujan lebat rutin mengguyur kota Jakarta. Membuat sejumlah sungai di Jakarta meluap dan beberapa wilayah di ibukota ini kebanjiran. Ketika musim hujan tiba, sungai-sungai yang mengaliri ibukota berubah semakin menakutkan bagi warga Jakarta.

5870_large

5869_large

Kali Ciliwung menjadi salah satu dari 13 sungai di Jakarta yang namanya kerap disebut sebagai media ‘kiriman’ banjir dari Bogor. Ciliwung dianggap sebagai momok pembawa bahaya dan pusat masalah social dan ekonomi yang membelit Jakarta. Nama kali terpanjang yang membelah Jakarta ini berkonotasi dengan air sungai yang hitam dan kotor, jutaan warga miskin dan pendatang liar yang berjejalan di deretan pemukiman kumuh serta berton-ton sampah yang menumpuk di badan sungai.

sungai ciliwung

Untuk itu, dalam kegiatan diskusi pertama Dialektika ini, Jejak Langkah Study Club mengusung tema tentang lingkungan hidup di sekitar kita dan bagaimana kita membentuknya. Dalam diskusi Dialektika ini, Jejak Langkah Study Club mengajak teman-teman dari Ciliwung Institute dan tokoh dari Kampung Hijau Urban, Ibu Harini Bambang Wahono, untuk berbagi pemikiran dan tindakan-tindakan yang telah mereka lakukan terhadap lingkungan sekitar mereka.

Kearifan Lokal Masyarakat sekitar Kali Ciliwung
Man masters nature not by force but by understanding them.” Ini adalah kutipan Jacob Bronowski, salah seorang ahli matematika, biologi, sejarawan ilmu sains sekaligus pembawa acara dan penulis acara “The Ascent of Man” – salah satu serial dokumenter TV BBC.

Kutipan ini tepat sekali untuk menggambarkan bahwa apa yang kita alami sekarang terkait dengan cara kita memperlakukan lingkungan sekitar kita. Cara kita memperlakukan sungai serta lingkungan sekitar rumah dengan buangan sampah rumah tangga kita.

Sebuah kearifan lokal merupakan gambaran yang bisa diwakili oleh upaya dan tindakan yang dilakukan para penggiat di Ciliwung Institute dan Kampung Hijau Urban.

Ciliwung Institute – salah satu forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Salah satu penggiat komunitas Ciliwung Bojonggede – Pak Hasanuddin –turut berbagi cerita mengenai kegiatan-kegiatan yang beliau lakukan di sekitar rumahnya yang termasuk Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

Lelaki sederhana ini menuturkan penting sekali untuk mewariskan kali yang bersih dan menyenangkan untuk tempat anak-anak bermain. Untuk itu ia rajin menggiatkan pemulungan sampah di sungai sekitar Bojonggede dan mengajak masyarakat sekitar untuk tidak membuang sampah di sungai. Menurutnya, jika kita memperlakukan sungai dengan baik maka sungai dapat menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Contohnya tumbuh-tumbuhan di area bantaran sungai seperti Bambu, Sengon, dan lain-lain dapat didayagunakan oleh masyarakat. “Tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar bantaran bisa dijadikan makanan atau bisa dijual ke orang lain,” begitu kata lelaki yang biasa disapa Bang Udin ini.

149759_396131453807164_1618132903_n

Ia juga menuturkan mengenai beraneka ragam jenis ikan yang hidup di kali Ciliwung karena masyarakat sekitar Bojonggede telah menjadikannya menjadi kali yang bersih tanpa limbah sampah.

Salah satu teman Ciliwung Institute lainnya yang merupakan penggiat di Komunitas Ciliwung Condet – Syahril Sidik – menuturkan berbagai masalah yang terjadi dengan Kali Ciliwung saat ini.

Menurutnya, Kali Ciliwung dari tahun ke tahun cenderung mengalami kerusakan seperti lebar sungai yang semakin menyempit dan area bantaran yang juga menyempit bahkan hilang. Salah satu penyebab hilangnya bantaran adalah perluasan pemukiman penduduk atau dijadikan sebagai area pembuangan sampah. Hal ini – menurutnya – sangat disayangkan karena menyempitnya area bantaran berarti menyempitnya pula salah satu sumber penghidupan.

Selain itu, menurut lelaki muda yang biasa disapa Ariel ini, fungsi bantaran penting bagi sungai karena sebagai pelindung aliran sungai. Bantaran sungai dapat menjadi area luapan air sekaligus wilayah resapan air saat sungai meluap. Tidak adanya bantaran maka saat air meluap langsung keluar sungai dan air hujan langsung memenuhi sungai tanpa ada area resapan.

398525_396131113807198_1734425502_n

Saat ini, di beberapa titik di bantaran Daerah Aliran Sungai Ciliwung sedang dikembalikan lagi fungsinya. Daerah Aliran Sungai di sekitar Bojonggede dan Condet kembali ditata kanan kirinya dengan melakukan penghijauan. Salah satu tanaman yang sedang diperbanyak jumlahnya adalah tanaman Bambu. Berdasarkan riset, bamboo selain merupakan tanaman asli sejak jaman dulunya di DAS Ciliwung. Banyak kegunaan bamboo seperti untuk tanaman hias, buat seruling dll. Bambujuga bisa menahan mengalirnya air hujan ke sungai sehingga air dapat meresap ke tanah dan tidak terjadi pendangkalan sungai akibat tanah yang terbawa air hujan.

Sebagai gambaran panjang aliran utama Kali Ciliwung adalah hampir 120 km dengan daerah aliran sungai seluas 387 km persegi. Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan daerah Puncak. Wilayah yang dilintasi Ciliwung adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Jakarta kemudian bermuara di Teluk Jakarta.

Saat ini, terang Ariel, makin ke hilir Kali Ciliwung makin menyempit dan makin mengalami pendangkalan. Salah satu akibat dari pendangkalan ini adalah arus air jadi tertahan sehingga meluber keluar sungai dan menyebabkan banjir.
Untuk itu – menurut Ariel dan Pak Hasan – saat ini komunitas Ciliwung Bojonggede dan Condet berupaya mengajak masyarakat berperan serta untuk menjaga dan merawat Bantaran DAS Ciliwung dengan cara menjadikan DAS Ciliwung sebagai sumber penghidupan mereka seperti pendayagunaan tanaman Bambu, menciptakan paket wisata outbound untuk anak-anak di Daerah Aliran Sungai Condet, dan mengajak anak-anak di sekitar kedua daerah tersebut untuk mencintai sungai di lingkungan mereka.

Kearifan Lokal Seorang Nenek untuk Lingkungan

Ibu Harini Bambang Wahono atau Eyang Harini, begitu beliau ingin dipanggil merupakan seorang wanita berusia hampir 80 tahun. Dengan usia yang sangat sepuh dan tubuh yang terlihat ringkih, wanita seperti beliau biasanya menikmati masa pensiun dengan bersantai bersama anak dan cucu. Namun tidak demikian dengan Eyang Harini – sosok inspiratif yang memiliki kepedulian begitu besar terhadap lingkungan di sekitarnya.

Di usianya yang senja, beliau masih rajin berbagi pemikiran dan pelatihan mengenai pengolahan sampah untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Seperti Sabtu, 15 Desember ini, beliau ikut berbagi cerita bersama teman-teman Jejak Langkah Study Club mengenai upaya yang telah beliau lakukan untuk menciptakan kampung hijau urban di wilayah rumahnya sendiri di Banjarsari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

61067_396131683807141_1070116484_n

Gerak kepeduliannya terhadap lingkungan hijau dimulai sejak awal 1980 saat beliau diboyong sang suami ke kampung Banjarsari. Eyang Harini begitu terobsesi menghadirkan suasana hijau nan teduh seperti kampung halamannya di Solo.

Dengan telaten, Eyang Harini mulai mengumpulkan ibu-ibu buta huruf di rumah mungilnya. Di saat mengajar baca tulis, mantan guru SD itu berbagi ilmu tentang pentingnya menjadikan lingkungan hijau dan bersih. Upayanya, lambat laun memicu warga rajin menghijaukan pekarangan rumah. Ia juga membiasakan warga memilah sampah organik dan anorganik. Oleh mereka, sampah organik dijadikan bahan kompos dan dimanfaatkan untuk menyuburkan pekarangan masing-masing. Sedangkan sampah anorganik dimanfaatkan untuk menciptakan barang yang bernilai jual.

380091_396131520473824_303735443_n

Jika kini kampung Banjarsari begitu hijau dan bersih dengan tong-tong pemilah sampah organik-anorganik, tak lain adalah buah perjuangan panjang Harini Bambang. Unicef bahkan menjadikan kampung urban ini menjadi kawasan percontohan ramah lingkungan pada 1996 dan membuat idenya pun banyak dicontoh sejumlah pemukiman di Jakarta.

Hingga saat ini, Eyang Harini telah memberi lebih dari 1000 penyuluhan mulai dari pemulung, warga sekitar, masyarakat di 31 provinsi di Indonesia hingga ke-10 negara di dunia. Beliau juga telah meraih sejumlah penghargaan atas upayanya mewujudkan kampung hijau urban dan melakukan advokasi pengolahan sampah. Tahun 2000, beliau mendapat penghargaan Juara Nasional Konservasi Alam dan Penghijauan dari Departemen Pertanian dan Kehutanan dan penghargaan Kalpataru pada 2001.

Di acara Dialektika, Eyang Harini menekankan kembali mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya serta melakukan pengolahan dan pemilahan sampah dengan baik. Sebuah tindakan sederhana namun sangat besar dampaknya jika kita dapat mendisiplinkan diri untuk mewujudkan lingkungan yang bersih.

Menurut beliau, hendaknya di setiap lingkungan perumahan dapat menciptakan bank sampah. Bank sampah ini nantinya dapat digunakan sebagai penampungan sampah disertai pengembangan kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah. Sampah organik dapat menjadi kompos untuk tanaman dan barang anorganik dapat menjadi material yang berguna dan menghasilkan keuntungan bagi pengolah sampah tersebut.

Beliau melakukan upaya pengolahan sampah tersebut dengan mencontoh apa yang dilakukan di Filipina. Tahun 2000, Eyang Harini mengupayakan membuat pupuk dari sampah dapur dan digunakan di pot-pot tanaman untuk kesuburan tanaman-tanaman tersebut.

Dalam hal regulasi dan naungan yang resmi, Eyang Harini mengharapkan Undang-Undang Pemerintah terkait pengolahan sampah.

Dalam kesempatan ini juga, Eyang Harini juga memberikan dukungannya terhadap kegiatan Ciliwung Institute dalam menjaga lingkungan di sekitar sungai Ciliwung. “Seandainya saya masih muda, saya pasti sudah daftar jadi relawan Ciliwung,” ujarnya penuh harap.

Menurutnya, persamaan yang dimiliki dirinya dan teman-teman di Ciliwung Institute adalah tantangan untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang sudah membudaya di masyarakat mengenai lingkungan. “Dan itu butuh waktu lama, pengorbanan yang besar, dan konsistensi untuk terus peduli,” katanya.

Ke depan, seperti visi yang diinginkan teman-teman di Ciliwung Institute, para peserta diskusi juga sangat mengharapkan sungai yang ada di kota Jakarta dapat berfungsi sebagai sungai wisata ataupun sarana transportasi untuk mengurangi kemacetan. Perwujudan impian ini harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat. Semoga bisa.

28738_396131630473813_1092811952_n

156203_396131957140447_114315640_n

Jika tertarik mengikuti diskusi Dialektika dan komunitas Jejak Langkah, sila gabung ke facebook Jejaklangkah StudyClub.
Jika tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan di Ciliwung Institute, sila kunjungi website Ciliwung Institute http://ciliwunginstitute.blogspot.com

Ditulis oleh Elvi Astuti berdasarkan notulensi acara dan berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: